REWIND : NOSTALGIA A LA KASET PITA

45309_4928018438219_2043673728_n

Sekitar 2 minggu lalu, saya dikabari tentang sebuah acara ketika menghadiri sebuah obrolan santai di Kedai Buku Jenny. Acara ini rencananya dibuat untuk menyambut sekaligus merayakan Record Store Day yang jatuh tanggal 20 April tahun ini.

Langsung saja kabar itu menancap bak paku di pikiran saya. Sepertinya bakal sangat menarik bila benar-benar direalisasikan.Namun saat terima kabar itu pun, saya masih belum diberitahu konsepnya seperti apa jadinya. Serta merta saya tidak berharap muluk-muluk karena acara tersebut belum pasti dilaksanakan.

Saya pun akhirnya dikabari oleh Mawar (yang mengabari saya tentang acara ini) kalau beliau sedang menggarap materi acaranya, maka betul-betul acara ini bakal benar-benar dilaksanakan. Beliau pun meminta saya turut berpartisipasi sebagai perwakilan dari Vonis Media sekaligus meminta file film Sound City-nya Dave Grohl milik saya. Tak pelak saya pun antusias menyambutnya, walaupun kepastian untuk tanggal pelaksanaannya belum pasti lagi.

Tanggal 13 April 2013 pun dipilih (setelah dikabari lagi) untuk menggelar hajatan ini yang diberi tajuk “Rewind: Mari Memutar Kembali Kaset Kesayangan dan Kenangan yang Ada di Dalamnya” bertempat di Kampung Buku. Tajuk yang pas (dan juga brilian menurut saya) untuk menyambut Record Store Day sekaligus merayakannya dengan konsep acara tersendiri, bahkan dilaksanakan sebelum tanggal semestinya.

Poster acara serta tautan informasi mengenai Rewind yang ditulis di Makassar Nol Kilometer selaku penyelenggara acara pun disebar. Tak luput pula saya menyebarkan juga lewat berbagai jejaring sosial. Di salah satu akun jejaring sosial yang saya miliki,hanya beberapa menit saja sudah banyak yang mengomentari dan menyukai gambar poster “Rewind” dengan minat yang tinggi.

Bahkan ada beberapa teman yang saya tandai di gambar poster Rewind pun  berkomentar  baru melihat acara yang seperti ini di Makassar. Nampaknya sejauh ini “pancingan” dunia maya bisa berhasil untuk menarik beberapa orang dengan kenangannya bersama kaset pita untuk datang bercerita di Rewind nanti.

Sembari sambil menunggu hari H, saya pun (seperti biasa,tiba masa tiba akal) dipusingkan untuk memilih album kaset pita mana yang bakal diperdengarkan. Karena aturan di Rewind mensyaratkan setiap orang hanya bisa memperdengarkan 1 album saja dan bercerita panjang lebar tentang kenangannya.

Dapat  informasi lebih lanjut, akhirnya boleh membawa beberapa kaset untuk dipajang di lemari eksibisi. Nah! mungkin dengan membawa beberapa kaset,saya bisa buat jaga-jaga apabila nanti kehabisan bahan buat bercerita ataupun ada yang saya tiba-tiba ingat bila berada sudah berada di Rewind.

Hari H pun tiba juga. Saya pun menuju ke Kampung Buku tempat perhelatan Rewind digelar menjelang acara dimulai jam 3 sore. Sesampai disana, saya baru melihat beberapa orang yang datang dan acara belum dimulai ketika jam 3. Tampaknya bakal molor lagi.

Mengamati konsep tempatnya, Rewind ini dikemas  sederhana dengan teras rumah di Kampung Buku difungsikan untuk tempat bercerita dengan tujuan sepertinya membangun suasana keakraban antara pencerita dengan yang mendengarkan cerita. Tampak juga di pojok Kampung  Buku ada komunitas perajut QuiQui Makassar yang menggelar garage sale dan Kedai Buku Jenny menjual buku dan CD serta beberapa merchandise lainnya. Komunitas Blogger Makassar pun turut meramaikan acara  ini.

Menjelang jam 4 sore,mulai banyak yang mendatangi Kampung Buku dan benar saja acara pun dimulai juga. Dibuka dengan penampilan Globalisashit featuring Bobel membawakan “Bintang Kecil” hehehe…

small1

Bobel unjuk suara dengan Globalisashit🙂

Selanjutnya Globalisashit yang merupakan duo akustik ini beranggotakan Radhit (vokal/gitar) dan Saleh (lead guitar), bersemangat membawakan nomor telak “Menjadi Indonesia” dari Efek Rumah Kaca dan “Yellow” dari Coldplay. Tampaknya euphoria Rewind mulai terbangun.

Dan tetap saja saya belum menetapkan album mana yang bakal diputar nanti,karena sebetulnya semuanya favorit dan masing- masing punya kenangan yang mendalam. Bagaimana tidak, kaset pita ini sudah saya koleksi semenjak kelas 2  SD (kaset pertama saya  P-Project Jilid IV dan masih ada sekarang) dan pastinya punya cerita di setiap album kaset pita yang saya beli.

Setelah berargumentasi dengan keinginan sendiri dan mengesampingkan selera unggulan saya yakni Seattle Sound, akhirnya saya pun memilih album Blood Sugar Sex Magik-nya Red Hot Chili Peppers yang saya miliki sejak kelas 1 SMP dan menemani selama mengarungi masa ABG sampai sekarang ini. Mengapa bukan kaset pertama? karena saya sudah tidak ingat lagi kenangannya.

MC pun mempersilahkan pencerita pertama yaitu Ipul, yang bercerita tentang beberapa kaset kesayangannya yang punya kenangan mendalam, antara lain The Best of Santana dari tahun 1982 dan Pearl Jam “Ten” merupakan favoritnya. Tampak jelas beliau die hard fans Pearl Jam dari kaus hitam bergambar wajah grafik vektor Eddie Vedder.

Sambil memutarkan Ten, Ipul mulai bercerita tentang kesuksesan album itu serta kenangannya di salah satu lagunya yaitu “Release”, dimana beliau teringat dengan almarhum ayahnya. Seketika saya terkejut karena lagu ini juga sering saya dengarkan menjelang tidur pas sedang KKN tahun lalu.

Memang benar, lagu ini pas sekali diputar ketika kita ingat orangtua bila sedang jauh. Selebihnya yang diceritakan Ipul pun masih seputar kesuksesan album tersebut dan cuma satu kenangan itu yang saya simak ketika diputar lagu Release itu.

757495115

Saya sedang “curhat” dengan kaset pita🙂 (foto oleh @IpulGs)

Ketika tiba giliran saya, saya juga sepertinya agak terbuai dan mulai asyik bercerita tentang album Red Hot Chili Peppers ini dan lupa bahwa semestinya kenangan yang digali dari kaset yang saya ceritakan seharusnya. Hanya beberapa kenangan yang bisa saya ceritakan dan itu pun tidak seutuhnya,seperti saya pernah diledek oleh seorang teman mengapa mendengarkan album yang menurut mereka cukup aneh didengar anak seusia saya kala itu. Saya pun bilang kepada mereka dengan lugas bahwa saya tidak menyenangi Peterpan yang lagi booming waktu itu dengan polosnya🙂

Tiba giliran berikutnya, Iko yang merupakan MD (Music Director) dari sebuah radio di Makassar bercerita juga tentang sejarah album band favoritnya,salah satunya Candlebox namun masih kurang menggali kenangan lebih dalam dari kaset yang dia perdengarkan.

small2

Iko dengan kaset kenangannya

Kenangan yang saya ingat dia ucapkan salah satunya ketika beliau memanjangkan antena radio dengan bambu hanya untuk mendengarkan siaran chart radio dari mancanegara. Selebihnya menceritakan perkembangan musik saat zamannya dulu.

Ada juga Mawar yang menceritakan kenangannya dengan kaset ABBA yang merupakan milik ibunya dan juga koleksi kaset Blur-nya yang cukup menggiurkan untuk saya koleksi juga hehehe.

small3

Koleksi kaset Blur yang menggiurkan!🙂

Selanjutnya beberapa pencerita juga menceritakan kenangannya dengan kasetnya,walau tidak terlalu lama,namun cukup menuai tepuk tangan dari yang menyimak.

Setelah petang lewat,sesi kedua bercerita pun dilanjutkan dan pencerita  yang paling favorit mungkin jatuh ke Ridho yang betul – betul membahas kenangannya. Beliau membahas kenangan personalnya dengan  album Slank dan Metallica. Pernah menjadi Slankers sampai hengkangnya Pay,Bongky dan Indra Q, hingga kenangan menterjemahkan lagu “One” milik Metallica melalui guru Bahasa Inggris-nya yang diam-diam beliau sukai.

smalls

Ridho sedang asyik bercerita dengan kenangannya

Nah! inilah yang seharusnya dibahas di Rewind, menggali lagi kenangan personal itu dari album yang kita putar, bukan membahas hal-hal teknis album tersebut. Langsung saja saya merasa tersadar juga tidak bercerita serupa seperti ini.

Pemutaran film “Sound City” yang cukup erat hubungannya dengan Rewind ini pun diputarkan oleh komunitas Tanah Indie pada sesi selanjutnya yang bercerita tentang sebuah studio di daerah Van Nuys,California yang cukup bikin berdecak kagum bagaimana proses rekaman analog dilakukan,bahkan bisa sampai beratus-ratus kali bila hasilnya kurang memuaskan.

Bandingkan saja dengan cara merekam lagu sekarang,yang sekali take tinggal diedit sana-sini,jadilah rekaman lagu yang walaupun bagus,namun kurang memiliki soul seperti lagu-lagu dari jaman dahulu yang masih merinding jika saya dengarkan. Mungkin disitu esensi nyata dalam lagu,suasana yang menghidupi lagu tersebut,salah satu dari merekamnya juga.

Rewind edisi pertama ini (semoga ada edisi berikutnya🙂 ), banyak harapan yang tertuang. Seperti hal menarik yang saya lihat di acara ini,yaitu kolektivitas beberapa komunitas yang terlibat untuk melaksanakan acara ini tidak mengandalkan profit yang besar bahkan bisa dibilang non-profit.

Artinya,tidak selalu harus ada ketergantungan dengan pihak yang memiliki dana besar bila ingin membuat sebuah acara,maka buatlah sendiri (do it yourself,man!) sesuai konsep yang ingin tampilkan. Namun, buat yang unik dan tidak itu-itu saja yang bisa membuat terbentuknya pola pikir bahwa hanya ini yang bisa dibuat di kota tercinta ini.

Banyak hal atau aspek lain yang bisa saling berkaitan yang tidak pernah dilihat oleh orang-orang konservatif di kota ini. Buatlah mereka tersadar, tidak selamanya kota ini hanya menampilkan hal-hal yang itu saja. Bahwa hal itulah yang harus ditampilkan dan sepertinya buatlah sesuatu yang berbeda namun tetap terarah kemana muatan muaranya berlabuh.

Kolektivitas seperti ini juga bisa diambil contoh sederhana namun bermakna bagi para penggiat skena indie di Makassar,baik itu dari kalangan penggiat film,musik,tari dan sebagainya, bahwa sudah saatnya semuanya saling bahu-membahu membangun suasana saling mendukung satu sama lain demi pembaharuan semangat di kota ini yang nampaknya mulai menuju kejemuan kalau yang saya sadari.

Namun inilah langkah menawarkan ide segar sebuah acara di kota Makassar ini. Layaknya seekor anak burung yang belajar terbang, mengharapkan langkahnya tidak tertatih-tatih lagi,semakin berkembang sayapnya untuk terbang tinggi.

Semoga Rewind masih memegang semangat kolektivitas dan harapan yang saya ungkapkan secara pribadi ini ke depannya. Selamat bernostalgia!

Makassar,19 April 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: