KERIUHAN GETIR DARI SUDUT PANDANG FAMI_

Fami-Redwan

Baca langsung di REVI.US : http://www.revi.us/people/the-awesomer/keriuhan-getir-dari-sudut-pandang-fami_/

Berawal dari memproklamirkan diri untuk keluar dari pola bermusik a la anak band yang dilakukannya bersama unit punk rock-nya The HotdogsFami Redwan merilis album self-released berjudul The Chloroplast di awal proyek solonya. Kemudian berlanjut dengan mengusung dub reggae dengan nama Tragic Soundsystem. Terakhir, memakai nama Fami_ dengan tambahan underscore pada ujung namanya di EP International Bitter Day, EP “resmi” pertamanya. Lagu “Gegap Gulana”, “Membusuklah Bersamaku”,”Delusional Permanence”, “International Bitter Day” dan “My Schism, Your Perspective” di EP International Bitter Day ini menjadi bukti Fami_ berusaha mengaduk pop menjadi lebih ekletik. Dengan bebunyian trip-hop, dub reggaesampling sitar India yang membuai bahkan memasukkan bunyi ombak Pantai-yang lebih tepat disebut anjungan sekarang-  Losari, terbukti berhasil memasuki telinga saya dengan nyaman seolah-olah menemukan komposisi meditasi yang tepat untuk merilekskan jiwa dan raga. Berikut petikan wawancara saya dengan Fami Redwan mengenai proses kreatifnya di EP International Bitter Day.

Selamat atas dirilisnya EP International Bitter Day dalam bentuk cassette tape.  Sedikit klise, mengapa merilisnya?

Setelah lagu “Gegap Gulana” selesai dibuat bulan Maret lalu, saya lalu mengunggahnya ke akun SoundCloud. Tidak berapa lama kemudian lagu ini  ternyata didengar oleh Taufiq Rahman dari Elevation Records. Dia berminat merilisnya dalam bentuk EP. Setelah setuju, saya pun mengirim lagi empat lagu lainnya.

Jadi, EP ini tidak berasal dari keinginan sendiri untuk merilisnya?

Iya, EP ini sepenuhnya ide dari Taufiq. Mulai dari penjudulan,tracklisting, sampai distribusi, saya tidak pernah mengusulkan apa-apa. Semua dia yang tentukan. Kalau ada yang dia minta, saya usahakan. Saya tidak berani usul sembarangan. Sebelumnya juga, saya  tidak pernah merilis dalam bentuk fisik, jadi mengapa tidak EP ini dirilis oleh Elevation.

Apakah ini semacam keberuntungan bisa bergabung menjadi bagian dari Elevation Records?

Kalau soal label, saya beruntung juga sebetulnya bisa masuk di Elevation Records. Semua urusan selain materi musik, saya bisa lepaskan ke mereka dan saya percaya kalau yang mereka bikin pasti bagus. Sejauh ini terbukti. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya tidak mau usul sembarangan karena saya sudah percayakan sepenuhnya dengan Elevation Records.

Mengapa tidak memakai nama Tragic Soundsystem untuk rilisan album EP ini?

Jadi, Tragic Soundsystem itu sebenar hobi saja dengan menyetel lagu-lagu dengan atmosfer dub reggae, karena saya suka musiknya. Belum pernah kepikiran untuk bikin lagu kayak begitu, Apalagi untuk bikin album dub. Karena secara skill sama peralatan, saya belum kesampaian.

Kabar menarik terakhir yang terdengar, EP ini bakal dirilis dalam bentuk CD pada 9 Juli mendatang. Mengapa harus tanggal 9 Juli yang notabene hari memilih presiden se-Indonesia?

Karena sepanjang proses dalam merampungkan EP ini sebenarnya kami lebih banyak ngobrol soal topik-topik lain di luar urusan EP. Suasana politik dan pemilihan presiden termasuk obrolan wajib. Mungkin dari situ Taufiq menarik kesimpulan rilis CD pada tanggal 9 Juli. Sepakat untuk kurang ajar sedikit ha ha ha.

Apa materi di EP ini sepenuhnya lagu baru atau ada materi lama yang mengendap kemudian dirilis?

Dari  5 lagu dalam EP yang dirilis, ada materi lama seperti  “Membusuklah Bersamaku” yang dulu ada di album self-released judulnya The Chloroplast.  Kemudian di tahun 2007, saya buat versi terbarunya karena versi lamanya tidak bagus lagi.  Jadi, bukan karena mau dirilis Elevation Records saya bikin ulang lagi versi terbarunya.

Bagaimana metode membuat aransemen untuk semua lagu di EP ini?

Basic dari semua lagu selalu berpatokan pada rhythm section, drum dan bass. Kemudian baru meraba-raba dimana menempatkan part-part lainnya, tempo, frekuensi dan sebagainya. Soal sound, semuanya saya coba. Semua saya drag kiri kanan, tarik atas bawah, apapun dilakukan sampai enak di telinga dan merata. Maklum saja, saya juga termasuk otodidak, tidak pernah ikut sekolah khusus untuk ini

Lagu “Gegap Gulana” sepertinya paling unik dari semua lagu di EP ini karena ada bebunyian sitar. Mengapa sampai punya ide untuk menempatkan part sitar di lagu tersebut?

Sebenarnya itu ide seorang partnerku. Sebelum saya take vocal, kami sama-sama nonton videonya Rajesh Vaidhya, seorang pemain sitar di Youtube. Besok paginya pas selesai take vocal, dia sempat bilang, “tidak kepikiran buat masukkan itu bunyi sitar yang semalam?” Awalnya tidak terlalu yakin bisa. Dari videonya, saya ambil sampling sitar-nya kemudian diolah ulang biar pas sama lagunya. Setelah tempo dan pitch-nya digeser-geser, ternyata asyik juga. Elevation juga awal naksir buat rilis EP berawal dari sampling sitar ini. Lucunya, saya tidak simpan data sampling-nya. Entah bagaimana kalau mainkan lagu ini pas live nantinya.

Ternyata sampling sitarnya berasal dari Rajesh Vaidhya. Apakah itu tidak melanggar hak cipta?

Saya lepaskan persoalan itu juga ke label. Tapi sebetulnya permainan sitarnya itu juga bukan lagunya, melainkan sebuah mantra. Dia mainkan ulang dengan sitar. Jadi kalau dia marah soal hak cipta, silahkan ambil pemasukanku dari penjualan EP ini. Yang jelas, jangan coba kasih hilang sampling sitarnya, karena di situlah nyawanya.

Ada kisah tentang lagu “International Bitter Day” yang dijadikan judul EP ini?

Lagu ini dibikin waktu jaman lagi tergila-gila sama trip-hop. Iseng-iseng belajar bikin sendiri. Tapi hasilnya terlalu berisik, tak terkendali dan sebagainya. Yang bikin semua itu tidak terasa “kacau” adalah vokalnya Tiara Robertson (seorang teman dunia maya Fami yang tinggal di Texas, USA), yang bikin lirik lagunya juga. Dialah yang menyelamatkan lagunya lewat vokal dan liriknya. Jadi, saya bikin musiknya lalu kirim via e-mail, kemudian dia kirim balik dengan vokalnya via e-mail juga.

Ada rencana launching khusus dan tour untuk EP ini?

Ada beberapa yang mengajak, tapi sepertinya belum saatnya untuk launching. Nanti-nanti lah sambil menunggu momen yang tepat.

Oya? Padahal dengar-dengar kabar bakal ada lauching EP ini di Makassar dalam waktu dekat. Jika tidak jadi, mengapa?

Sempat dengar  kabar soal launching itu dari Taufiq. Tapi mau diapa lagi, saya tidak bisa. Segi teknisnya, peralatan yang biasa dipakai entah dimana semua. Namanya juga DJ yang lebih sering meminjam.  Segi non-teknisnya, main musik bukan lagi prioritas utamaku sekarang.

Musik bukan lagi prioritas utama sekarang. Boleh dibilang sudah jenuh untuk bermusik?

Ha ha ha, bukan juga jenuh bermusik. Sejak awal saya memang tidak pernah mendisainkan diri untuk menjadi pemusik. Sebagai pendengar sudah pasti. Sekarang sedang berusaha menemukan ulang lagi skill-skill yang saya kuasai dan coba hidupkan lagi skill-skill itu. Intinya, saya tidak pernah jauh-jauh dari musik.

Kalau boleh, ada saran dan kritik untuk REVIUS?

Saya sempat buka sekilas situsnya. Sejauh ini belum ada. Biasanya situs-situs lokal di Makassar begitu dilihat, langsung terlihat kekurangannya.  So far so good. Keep up the good work!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: