Musik dan Eksistensi di Hari Terbaik Revolution of Smanses 2015

Foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun)

*Tulisan ini pernah dimuat di Revius Webzine pada 10 Februari 2015.

Pentas seni yang diadakan beberapa sekolah menengah di Makassar sejak sekitar satu dekade lalu, telah menjadi primadona bagi sekolah yang menyelenggarakannya hingga sekarang. Hal ini tidak lepas daya pikat dari musik yang menjadi bagian dari unsur seni tersebut, yang paling mudah dicerna oleh semua orang, termasuk siswa-siswa sekolah menengah di Indonesia. Simpulnya, penggunaan kata “pentas seni” atau disingkat pensi ini akhirnya selalu diafiliasikan kepada acara seni yang dibuat siswa sekolah menengah di era sekarang.

Perlu diketahui, asal mula adanya pentas seni sekolah di Indonesia diawali dari Pesta Pelajar, suatu acara yang diselenggarakan oleh majalah HAI pada tahun 1989 hingga 1996. Pesta Pelajar diselenggarakan oleh para siswa yang berasal dari berbagai sekolah. Majalah HAI secara tidak langsung berperan sebagai fasilitator dan pengarah, mengajarkan keterampilan manajerial dan berorganisasi kepada para siswa yang terlibat dalam kepanitiaan.

“The Greatest Day” yang diadakan oleh siswa –siswi SMAN 11 pada 7 Februari 2015 lalu bisa menjadi pemegang tongkat estasfet yang kesekian dari semangat Pesta Pelajar maupun beberapa pensi serupa yang digelar setiap tahun. Pentas seni karya teman-teman ROSEE 2015—singkatan Revolution of Smanses 2015, nama panitia SMAN 11 yang menyelenggarakannya—ini merupakan hari terbaik dari hari-hari yang mereka lalui dengan bekerja keras untuk menggelar “The Greatest Day” ini.

Tidak tanggung-tanggung, ROSEE 2015 memboyong dua band indie nasional , Pure Saturday dan SORE untuk menambah semangat revolusi kreatifitas mereka di “The Greatest Day”. Theory of Discoustic, The Joeys dan FRONTxSIDE yang merupakan band-band menawan dari Makassar, tidak luput dari pantauan Revolution of Smanses 2015 untuk tampil sepanggung bersama SORE dan Pure Saturday.

Maka sebelum “The Greatest Day” digelar, telah lebih dulu dilaksanakan pra-pensi pada 23 sampai 25 Januari 2015 lalu di SMAN 11 Makassar yang menyajikan band kompetisi antar SMA, kontes graffiti, kontes foto dan kompetisi tari modern dance. Dapat dipastikan pemenang dari kompetisi band dan kompetisi tari modern dance dari pra-pensi ini akan tampil dalam satu panggung bersama para penampil utama nanti.

Terlepas dari kabar bahwa kedua personil Pure Saturday, Udi dan Adi baru saja mengundurkan diri dari bandnya semenjak 25 Januari 2015 lalu, teman-teman ROSEE 2015 yang dihubungi via media sosial, tetap optimis bisa mendatangkan Pure Saturday lengkap bersama Adi dan Udi agar bisa menghilangkan kekecewaan teman-teman Pure People yang telah lama menunggu kedatangan Pure Saturday di kota ini.

Saya yang mendapat kabar tentang kehadiran Pure Saturday dan SORE di pentas seni SMAN 11 Makassar beberapa waktu yang lalu, sudah pasti terpanggil untuk datang menyimak kedua band favorit saya ini. Terlebih lagi ketika e-flyer “The Greatest Day” yang disebar di berbagai media sosial yang menampilkan tiga band Makassar tersebut, saya sudah memantapkan niat untuk hadir menyimak keseluruhan penampilan mereka.

Saat menginjakkan kaki di Celebes Convention Center sekitar pukul delapan malam, secara samar-samar saya mendengar dari luar gedung kalau acaranya telah dimulai. Sepertinya penampilan pemenang band kompetisi dan modern dance mulai unjuk aksi dalam memperlihatkan kemampuan mereka sesuai bidangnya masing-masing.

Penampilan para pemenang kompetisi antar sekolah itu pun membuka “The Greatest Day”, yang sepertinya memang mengutamakan suguhan utamanya, yaitu penampilan grup-grup musik yang terpampang jelas di posternya.

The Joeys menjadi penampil pertama dari “The Greatest Day” saat jarum jam menunjukan pukul sembilan malam. Membawakan ulang lagu Coldplay yang berjudul “Sky Full Of Stars”, The Joeys yang terdiri dari Ica’ (vokal/gitar), Reynold (keyboard), Ari (bass) dan Adi (drum), cukup apik memainkannya, walau ada kendala dari keluaran sound yang terdengar kurang jelas ketika mereka memainkannya. Saya pun jadi harus mengurangi antusiasme melihat persoalan teknis tersebut, sambil berdo’a hal tersebut tidak terjadi lagi ketika mereka membawakan lagu kedua mereka.

The Joeys yang hanya membawakan tiga lagu di  The Greatest Day Revolution of Smanses 2015.

The Joeys yang hanya membawakan tiga lagu di The Greatest Day Revolution of Smanses 2015.

Tapi persoalan teknis yang sama pun terjadi lagi ketika The Joeys membawakan “High and Dry”. Bagusnya, mereka tetap bermain dengan cukup baik dan menutupnya penampilan mereka dengan lagu “Cry”, yang menurut salah satu teman musisi saya yang menggemari The Joeys yang kebetulan bersampingan saat menonton mereka waktu itu, memberitahu saya kalau “Cry” merupakan lagu B-Side dari The Joeys yang jarang dibawakan.

Sambil berujar dalam hati, “wah, bagus juga bisa mendengar lagu langka mereka”,saya pun melanjutkan dengan pertanyaan, “kok, cuma tiga lagu yang dibawakan?”. Ya, karena The Joeys yang akrab menutupi aksi panggung dengan lagu “Beautiful Love”, urung tampil membawakan lagu tersebut karena persoalan waktu tampil The Joeys yang tampaknya dikurangi.

Melihat The Joeys yang tampil hanya dalam waktu singkat, saya berspekulasi kalau penampilan band-band dari Makassar juga mengalami hal yang sama. Theory of Discoustic yang merupakan band folk-akustik yang baru saja merilis EP terbarunya, Alkisah, menjadi penampilan mereka yang saya tunggu-tunggu setelah sebelumnya menyaksikan mereka secara langsung di BERDIKARI dan UIN, 30 Desember 2014 lalu.

Theory of Discoustic pun memulai penampilannya dengan “Satu Haluan” yang dipadukan dengan semacam intro di depannya. Ternyata masalah teknis dari segi sound juga terjadi di penampilan Theory of Discoustic, suara keluaran beberapa instrument terdengar mendem. Berlanjut lagi di lagu berikut “Teras Khayal” “Negeri Sedarah”, maupun “Nadir”, terdengar suara gitar string Reza NM tidak bunyi. Echa, sapaan Reza NM pun terlihat sibuk memberi kode arahan kepada kru untuk segera memperbaiki permasalahan tersebut.

 Terdengar suara gitar string gitaris Theory of Discoustic Reza NM tidak bunyi. Echa, sapaan Reza NM pun terlihat sibuk memberi  kode arahan kepada kru untuk segera memperbaiki permasalahan tersebut.

Terdengar suara gitar string gitaris Theory of Discoustic Reza NM tidak bunyi. Echa, sapaan Reza NM pun terlihat sibuk memberi kode arahan kepada kru untuk segera memperbaiki permasalahan tersebut.

Baru pada lagu “Lengkara” dan “Alkisah” saya akhirnya bisa menikmati penampilan Theory of Discoustic dari segi sound yang lebih baik, sambil menyimak Dian yang penuh penghayatan menyanyikan tiap bait dari lirik lagu-lagu tersebut. Sepertinya persoalan teknis untuk sound malam itu menjadi kendala dari The Joeys maupun Theory of Discoustic yang berusaha tampil semaksimal mungkin.

FRONTxSIDE menjadi penampil berikutnya dalam “The Greatest Day” malam itu. Tanpa jeda maupun tiada ampun sekaligus, FRONTxSIDE pun melibas beberapa lagu andalan mereka seperti “Everyday”, “Blood N’ Victory”, “Sang Penunda”, “Make Ego, “Fuck Them All”, “Revolusi” dan yang terakhir “Pencari Kerja”.

Terlihat beberapa hardcore kid yang sudah setia menunggu penampilan FRONTxSIDE malam itu, langsung tumpah ruah menyambut dentuman drum Rizki maupun teriakan Indar yang disambut cabikan bass Eggi yang berpadu menjaga ritme gitar Wawan Ndo yang menggerung. Persoalan teknis dari segi sound yang cukup mengganggu sejak awal, syukurnya terdengar mulai bagus saat FRONTxSIDE tampil.

 Tanpa  jeda maupun tiada ampun sekaligus, FRONTxSIDE pun melibas beberapa lagu andalan mereka di The Greatest Day.

Tanpa jeda maupun tiada ampun sekaligus, FRONTxSIDE pun melibas beberapa lagu andalan mereka di The Greatest Day.

Penampilan ketiga band keren dari Makassar ini pun patut diacungi jempol. Melihat penampilan mereka yang terkendala dari segi sound, mereka tetap tampil apik dan atraktif dalam menyampaikan makna dari karya-karya mereka. Ya, semangat mereka untuk tidak memberikan penampilan yang mengecewakan bagi yang menyimak, jadi pelecut untuk tidak terlalu peduli ketika persoalan tersebut terjadi ketika mereka sudah tampil. Alangkah baiknya, hal-hal seperti ini menjadi catatan bagi teman-teman penyelenggara agar ke depannya persoalan teknis seperti ini tidak terulang kembali.

Penonton “The Greatest Day” yang tampaknya sangat berkeinginan untuk menonton kedua band yang diundang dari luar Makassar, mulai merangsek ke depan barikade ketika ketiga band tersebut tampil. Pure Saturday yang telah hadir di blantika musik nasional sejak tahun 1996 dan merupakan salah satu penampil utama “The Greatest Day” malam itu, memulai penampilannya “Spoken” yang merupakan lagu duet dengan Suar, vokalis pertama mereka. Iyo yang mengenakan topi bertuliskan Taring, band hardcore dari Bandung, langsung mengajak para penonton maupun Pure People—sebutan penggemar Pure Saturday– untuk bernyanyi bersama menjadi teman duet dalam berbagi suara di lagu itu.

 Iyo yang mengenakan topi bertuliskan Taring, band hardcore dari Bandung, langsung mengajak para penonton maupun Pure People—sebutan penggemar Pure Saturday-- untuk bernyanyi bersama menjadi teman duet dalam berbagi suara di lagu itu.

Iyo yang mengenakan topi bertuliskan Taring, band hardcore dari Bandung, langsung mengajak para penonton maupun Pure People—sebutan penggemar Pure Saturday– untuk bernyanyi bersama menjadi teman duet dalam berbagi suara di lagu itu.

Mereka pun melanjutkan dengan “Coklat” yang langsung disambut dengan antusias oleh audiens yang menyulut semangat untuk tetap berlompatan menyambut sahutan vokal Iyo dan bassline Ade Muir di lagu tersebut. berlanjut lagi di lagu “Later…The Saddest World Down”, Pure Saturday tidak tampak belum mau menurunkan temponya. Barulah pada lagu “Lighthouse” yang riang, Pure Saturday mulai memberikan ruang kepada Pure People untuk bernyanyi lagi bersama-sama.

“Pathetic Waltz” pun menjadi lagu berikut yang makin lambat maupun menghanyutkan dari Pure Saturday. Dan yang lebih istimewa lagi, ada sesi akustik yang sudah disiapkan oleh Pure Saturday. Mereka membawakan “Utopian Dream” dari album Grey yang aslinya berduet dengan Rekti, vokalis dari The S.I.G.I.T. “Di Bangku Taman” pun dimasukkan dalam set akustik Pure Saturday malam itu.

ifansized1

Ada sesi akustik yang sudah disiapkan oleh Pure Saturday. Mereka membawakan “Utopian Dream” dari album Grey yang aslinya berduet dengan Rekti, vokalis dari The S.I.G.I.T. “Di Bangku Taman” pun dimasukkan dalam set akustik Pure Saturday malam itu.

Tanpa berlama-lama dengan set akustik tersebut, Pure Saturday secara mengejutkan membawakan ulang lagu dari Morrissey, “Alma Matters” dan “The More You Ignore Me, The Closer I Get” serta “Oasis – Don’t Look Back In Anger”.

Sepertinya belum sah rasanya jika Pure Saturday tidak membawakan lagu “Kosong” malam itu. Dapat ditebak, koor berjamaah saat lagu legendaris tersebut membahana saat dibawakan dengan apik oleh Pure Saturday. Tidak diduga, “Kosong” bukanlah lagu penutup dari set list panjang Pure Saturday malam itu. Melihat antusiasme tinggi dari Pure People, membuat “Desire” pun dimainkan oleh Pure Saturday. Sungguh penutup yang berkesan untuk Pure Saturday yang pertama kalinya tampil tanpa si kembar, Adi dan Udi yang mengundurkan diri dari Pure Saturday semenjak 25 Januari 2015 lalu.

Iyo dari Pure Saturday menangkap energi penuh semangat dari Pure People yang berlompatan tanpa henti menyaksikan mereka, mengajak mereka bernyanyi bersama.

Iyo dari Pure Saturday menangkap energi penuh semangat dari Pure People yang berlompatan tanpa henti menyaksikan mereka, mengajak mereka bernyanyi bersama.

SORE, kolektif indie jazz—atau mereka menamakannya Indonesiana Rock Revival—asal Jakarta, didaulat menjadi penutup kemeriahan The Greatest Day malam itu. Ini pula untuk pertama kalinya mereka menjejakkan kaki mereka ke kota Makassar, jadi terbilang sangat istimewa untuk penggemar maupun SORE sendiri.

Lebih sangat istimewanya lagi, SORE yang malam itu berkesempatan untuk berkolaborasi dengan Is dari Payung Teduh, dikarenakan Ade Paloh yang paling sering bernyanyi di tiap lagu SORE, berhalangan hadir karena alasan kesehatan. Ditambah lagi di bagian keyboard dan gitaris rhythm didukung oleh Adink Permana, yang juga berperan jadi produser di album Skut Leboys, album SORE berikutnya.

“No Fruits For Today” pun membuka penampilan SORE bersama Is. Kemudian mereka melanjutkan dengan “Somos Libres” dan “Mata Berdebu”. Tanpa disangka SORE pun membawakan “Resah”, lagu milik Payung Teduh yang sudah pasti dinyanyikan oleh empunya lagu, Mohammad Istiqamah “Is” Djamad.

Muhammad Istiqamah "Is" Djamad dari Payung Teduh ternyata berkolaborasi  malam itu menggantikan sementara Ade Paloh yang berhalangan datang karena masalah kesehatan.

Muhammad Istiqamah “Is” Djamad dari Payung Teduh ternyata berkolaborasi malam itu menggantikan sementara Ade Paloh yang berhalangan datang karena masalah kesehatan.

Kemudian SORE melanjutkan dengan “Merintih Perih” dan “Etalase” yang merupakan beberapa lagu favorit saya terkhusus “Etalase” yang liriknya cukup lucu dan nakal dinyanyikan oleh Awan Garnida. Lanjut lagi ada “Pergi Tanpa Pesan” yang merupakan lagu dari film Berbagi Suami (2006).

Beberapa lagu favorit saya terkhusus “Etalase” yang liriknya cukup lucu dan nakal dinyanyikan oleh Awan Garnida.

Beberapa lagu favorit saya terkhusus “Etalase” yang liriknya cukup lucu dan nakal dinyanyikan oleh Awan Garnida.

Sepertinya SORE bisa menghadirkan set list yang sentimental sekaligus sensitif untuk saya dan beberapa penonton malam itu. “Apatis Ria” pun dibawakan dengan syahdu dan mengajak semua penonton ber-holiday dalam bayangan pikiran mereka masing-masing.

 

Echa Paloh dari SORE yang identik dengan permainan gitar kidalnya pun sukses memukau penonton The Greatest Day ROSEE 2015.

Echa Paloh dari SORE yang identik dengan permainan gitar kidalnya pun sukses memukau penonton The Greatest Day ROSEE 2015.

Setelah set list lagu yang cukup menye-menye jenius tersebut dibawakan, akhirnya SORE pun membawakan lagu riang “Sssttt…” dari album the besf of mereka, Sorealist. Seketika seluruh penonton malam itu diajak ber”gila-gila” ria melupakan segala aktivitas yang penat selama sepekan.

SORE menutup set list ciamik mereka malam itu dengan “Setengah Lima” yang diambil dari album Ports of Lima. Semua pun ikut bernyanyi “mati suri di taman”, tapi saya yakin mereka tidak ada yang mau merasakan hal tersebut. Yah, itulah kekuatan lirik yang enak digubah oleh SORE, mampu menghipnotis semua penonton untuk ikut nyanyi bersama.

SORE menutup set list ciamik mereka malam itu dengan “Setengah Lima” yang diambil dari album Ports of Lima.

SORE menutup set list ciamik mereka malam itu dengan “Setengah Lima” yang diambil dari album Ports of Lima.

Seperti itulah pentas seni sekolah “The Greatest Day” yang dihadirkan oleh Revolution of Smanses 2015, yang sudah pasti mengutamakan dan menunjukkan bakat-bakat teman antar SMA, sekaligus mempererat tali silaturahmi agar adu kreatifitas lebih positif dan bukan sekedar adu prestise belaka. Tidak lupa, untuk membuat pensi mereka semakin meriah mereka pun mengundang beberapa band-band keren nasional maupun dari kota tercinta Makassar.

Tapi sayangnya, industri dan bisnis mulai mengalihkan kemurnian dari adu kreatifitas antar siswa di pentas seni . Paham seperti itulah yang mengubah pola pikir siswa-siswa sekolah menengah agar pentas seni mereka menjadi sesuatu yang laku. Imbasnya, beberapa pentas seni sekarang beralih peran dari sebuah ajang kreatifitas antar siswa ke adu eksistensi antar sekolah.

Yang banyak di benak pikiran tentang pentas seni oleh siswa-siswa sekolah menengah sekarang adalah bagaimana mendapatkan uang untuk menyewa jasa band atau penyanyi terkenal agar tiket acara cepat habis. Kuantitas telah mengambil alih kualitas. Tidak sedikit pun ada dalam benak mereka bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengedukasi dan memberikan sesuatu yang berharga kepada pengunjung.

Suksesnya pentas seni sekolah menengah sekarang itu pun diukur dari seberapa banyaknya pengunjung yang datang atau kicauan tentang si acara di media sosial. Bukan seberapa besar dampak dari pesan tersirat atau tersurat yang sampai ke pengunjung.

Jikalau halnya hanya musik yang diusung, mengapa tidak memberi ruang kepada musisi-musisi baru yang punya cukup materi untuk menyampaikan pesan sesuai dengan konsep acaranya, tanpa harus mengundang musisi-musisi yang sudah punya nama. Sisi positifnya hal itu adalah nama-nama baru yang potensial mendapatkan tempat, para pengunjung pun mendapatkan sesuatu yang baru pula. Sebuah kreatifitas dan eksistensi yang pas! []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: